Ujian Nasional (UN) mungkin tak semenakutkan seperti dahulu. Pasalnya sekarang UN bukan lagi sebagai penentu kelulusan siswa. Jadi, kemungkinan untuk lulus sekolah sangat besar. Tak seperti dahulu, tidak lulus sekolah karena nilai UN-nya hancur.


Meskipun UN bukan lagi sebagai penentu kelulusan, tetapi jika kita tengok di semua media, pelaksanaan UN masih dihiasi dengan kecurangan yang dilakukan oleh para siswa itu sendiri. Contohnya seperti yang kita lihat di televisi, pada saat mengikuti UN siswa terlihat asyik membuka contekan atau saling bertanya dengan temannya, dan yang lebih ekstrim lagi kok ya malah asyik tidur. Coba lihat pengawas UN-nya juga terlihat santai saja kan? Haduh, mau dibawa kemana pendidikan ini?

Sebenarnya modal terbaik untuk mengikuti UN itu cukup sederhana saja, yaitu kejujuran. Kalau di dalam diri para siswa itu sendiri sudah tertanam kata "JUJUR" otomatis mereka tidak ada lagi niat untuk curang dengan mencontek.

Untuk mengurangi tingkat kecurangan tersebut, kini di beberapa sekolah sudah menerapkan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UN BK) seperti yang dianjurkan oleh kemendikbud. Ini merupakan salah satu inovasi pelaksanaan UN yang patut kita dukung. Pasalnya dengan menerapkan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UN BK) dinilai akan lebih efektif untuk meningkatkan kejujuran dalam pelaksanaan UN.

Setidaknya hal tersebut telah dibuktikan dari UN Sekolah Menengah Atas dan sederajat yang telah selesai dilaksanakan dan telah keluar angkanya. (Dikutip dari Kompas.com)

Masih dari sumber yang sama, Kompas.com - Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Nizam menyebutkan, sejak UN BK diberlakukan pada 2015, terlihat bahwa sekolah-sekolah yang pada tahun sebelumnya memiliki nilai UN tinggi namun menggunakan cara-cara curang, angkanya menjadi jeblok saat pindah ke basis komputer. Meski begitu, integritas sekolah-sekolah tersebut naik karena praktik kecurangannya berkurang.

Secara garis besar, papar Nizam, terdapat 24 provinsi dari total 34 provinsi yang integritasnya naik. Meskipun ada pula daerah yang mengalami penurunan.

Kemendikbud pun mengukur nilai integritas dan membaginya menjadi empat kuadran. Berikut ini penjelasan keempat kuadran tersebut seperti dikutip dari Kompas.com.

Kuadran satu berarti sekolah telah jujur dan prestasi anak tinggi, kuadran dua sekolah jujur namun prestasi masih rendah. Adapun kuadran tiga tingkat kejujuran sekolah rendah dan prestasi rendah, sedangkan kuadran empat tingkat kejujuran rendah namun prestasi tinggi. Kuadran tiga adalah jika kecurangan cenderung bersifat individual, sedangkan kuadran empat bersifat sistemik dan terstruktur.

Dari data Kemendikbud, angka sekolah jurusan IPA menempati kuadran empat pada 2015 sebanyak 7.041 sekolah (56,6 persen). Sedangkan pada 2016 menurun menjadi 4.880 sekolah (41,7 persen). Sedangkan untuk jurusan IPS, pada 2016 mencapai 8.672 (51,3 persen) dan pada 2016 menurun menjadi 6.219 (37,8 persen). Angka tersebut mengartikan bahwa praktik kecurangan terstruktur menurun secara signifikan.

Berdasarkan kutipan tersebut, kita patut mendukung inovasi tersebut yang harapannya bisa mengurangi segala bentuk praktik kecurangan dalam pelaksanaan UN. Semoga siswa terbiasa berlaku jujur, tidak lagi mencontek, dan lebih fokus lagi mengikuti UN. Mudah-mudahan tak akan ada lagi siswa yang tidur ketika mengerjakan soal. Aminnn. Salam edukasi.